Pendakian Manglayang, 3-4 Oktober 2015
Pendakian Manglayang kali ini mengingatkan dengan pendakian tahun lalu. Masih teringat tahun kemarin, kita diberi hujan rintik rintik , naik dari bumi perkemahan Batu Kuda Cileunyi dan jam sebelas malam perjalanan kita akhiri dengan ngecapm di puncak “Geje” karena posisinya di antara puncak utama dan puncak bayangan, dan pada pagi hari itu aku harus melupakan ritual wajibku untuk membuat kopi karena tidak ada air yang tersisa, dan pada saat pulang kita pun tidak melewati puncak Bayangan yang justru itu jadi target buruan kita buat melihat view dan selfi dengan background kota Bandung (huffh).Tapi apapun itu ambil hikmahnya, tapi tetap aku masih penasaran dengan view kota Bandung yang ditawarkan oleh Manglayang di puncak Bayangan, berbekal penasaran dan hasrat yang tak tertahankan dan lebih belajar lagi memahami tracknya dari google, akhirnya acara warming up (acara nya eskul wanarana (fotografi dan pecinta alam SMKUT PGII) yang aku pimpin akhirnya memutuskan untuk tracking lagi ke Manglayang , bagiku mungkin ini akan mengembalikan kenangan tahun lalu, mencari kepingan hati yang dulu sempat tertinggal di gunung ini. Setelah cipika cipiki dengan si kecil Raya, jam 06.00 pagi aku berangkat dari rumah, tujuan pertama adalah ke terminal Cicaheum untuk mencari angkutan kota terlebih dahulu, Alhamdulillah dapat , bahkan dua angkot sekaligus (walaupun agak takjub juga dengan si bapak sopirnya walau udah tua tapi tatonya mantab (inget umur ya pak:D, sholatnya gimana?, tapi terserahlah itu Hablumninallah, hubungan manusia dengan Khaliknya, toh manusia selalu diberi kebebasan untuk memilih). Sampai sekolah murid murid sudah menunggu dengan tidak sabar, biasa dengan “aktivitasnya yang super dinamis” nya masing masing (dan aku baru sadar bahwa pada pagi itu tiba tiba sekolahku berubah menjadi Pasar Baru ). Setelah sedikit dipusingkan dengan cek barang dan ngabsen anak anak akhirnya jam 07.30 kita berangkat. Perjalanan lancar,di Kiara Payung Jatinangor pagi itu dipenuhi para “gowes-er” yang sedang berjuang menaklukan tanjakan dan inilah rutinitas setiap akhir pekan di daerah ini. Angkot akhirnya berhenti di belakang Kiara Payung dan perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalan berbatu berdebu tetapi di kiri dan kanan kita bisa melihat kontrasnya hijau pohon dan birunya langit. Ditengah perjalanan muridku (Diki) bilang “Pak, Diki balik lagi ya ke bawah, panci nya ketinggalan pak” ,kesalahan kecil tapi fatal,bisa bisa kita tidak bisa makan nanti di atas dan kelaparan sampai besok, tapi syukurlah sang panci dapat terambil kembali (walaupun sang panci sempat bete karena di cuek in sendirian ). Tidak ada pohon peneduh dan pada waktu itu sedang kemarau panjang membuat perjalanan ini terasa lama, sebagian anak anak pun ada yang sudah mengambil break sendiri sambil duduk lemas di pinggir jalan (untung gak sambil nengadahin tangan). Akhirnya jam 09.15 kita nyampe di Pos awal pendakian Baru Beureum, seperti biasa kita akan disambut dengan teh hangat, mi instan , gorengan dan juga keramahan Emak (yang punya warung) akan mengobati perut kita yang sudah demo sambil membawa bawa poster minta di isi. Dapat ditebak canda tawa dan keriuhan pun terjadi (beruntung Emak nya gak migren dan bingung kok tiba tiba warungnya mendadak kayak jadi suasana di PAUD).
Tepat jam 10.00 menjadi start point awal pendakian kita, sebelumnya kita mengawalinya dengan berdoa terlebih dahulu (karena dengan berdoa, kita bisa mengikhlaskan niat perjalanan kita, dan karena kita pun gak tau apa yang akan terjadi di atas sana). Walaupun gunung ini adalah gunung terendah dari gugusan gunung purba sunda (Burangrang, Bukit Tunggul, Tangkuban Perahu dan Manglayang) ternyata di awal pendakian kita sudah disuguhi track yang “sangat sopan”, dengan kemiringan 70 derajat akan membuat jantung kita berdegup kencang, napas yang terengah, lutut yang nyeri, dan pundak yang pegal membawa beban akan langsung membuat kita down di awal pendakian ini, maka penderitaan pun dimulai. Tanah tandus dan berdebu pun akhirnya menjadi sarapan siang itu, keadaan menjadi serba salah , bila memakai masker/syal pernafasan seakan sesak , bila tidak pun rasanya kita menghirup seluruh debu yang berterbangan tertiup angin. Ada satu kejadian yang aku ingat, untuk pertama kalinya aku melihat batu berjatuhan dari jalur atas pendakian, batu batu besar setinggi lutut menggelinding bagai longsoran karena terlepas terpijak oleh pendaki lain, beruntung batu itu keluar dari jalur lintasan 3 meter di depanku, menegangkan dan mengerikan, jadi teringat 5cm, tapi kutegaskan ini Manglayang, bukan Semeru.
Setelah break beberapa kali, jam 13.30 Alhamdulillah akhirnya kita sampai di puncak bayangan, inilah hadiah dari ketinggian 1818 MDPL itu, dan ini yang selama ini aku cari, pemandangan landscape kota Bandung, Sumedang, Gunung Geulis terhampar bagai permadani putih di antara hijaunya pepohonan. Seluas mata kita memandang, kita dimanjakan oleh desainnya Allah yang Maha sempurna, pemandangan yang membuat kita betah berlama lama hanya untuk duduk ,terhanyut dalam kesendirian dan tidak mau terganggu oleh siapa pun. Di sinilah refleksi itu muncul dengan sendirinya, setiap hati manusia akan semakin menunduk dan jatuh terjerembab menyadari bahwa diri ini kecil, bahkan sangat kecil dibandingkan dengan ciptaan sang Khalik.
Hari itu kita habiskan dengan mendirikan tenda, makan siang di bawah pohon dan ber selfi ria (wajib hukumnya), tapi ada satu hal yang membuat tidak nyaman, debu ada dimana mana. Ini sulit sekali kita hindari, dari memasak mi instan, air panas semuanya bercampur dengan debu, bahkan debu pun sampai masuk kedalam tenda, jangankan berlari, melangkah perlahan pun debu debu sudah berterbangan. Tapi tetap ada yang kita syukuri, kita belajar lagi ber tayamum karena untuk berwudhu kita tidak mempunyai ketersedia an air.
Sore menjelang, Matahari di ufuk barat mulai turun perlahan, bagai bulatan permen lollipop di atas topi caping pak tani, seperti sihir, semua orang sangat menikmati moment itu, seperti menghitung detik detik pergantian tahun , lalu apa perbedaan nya dengan kita melihat sunset sunset yang lain ,tidak ada bedanya kan?, akan tetapi sunset yang ini mungkin kita bisa melihatnya setelah kita menempuhnya dengan perjuangan dan menaklukan sebuah tantangan sehingga rasa bangga dan syukur itu tercipta dan melebur bersama semburat sang jingga. Setelah itu satu persatu pijar pijar lampu kota mulai dinyalakan, bagai serpihan berlian memantulkan cahaya ke emasan membuat kita menjadi semakin terdiam dalam keheningan. Semuanya berkata tanpa suara, asik sendiri, berinteraksi dengan lamunan dan imaji. Mistis sekali, indah sekali sore itu dan kita menutupnya dengan kalimat “sempurna”.
Malam pun datang, waktu seakan berhenti disini, seakan tidak ada satu pun yang ingin melihat perubahan detik jam di tangan, semuanya ingin mengalir dengan sendirinya, bernyanyi , curahan hati, bercerita tentang kenangan dan harapan. Tanpa kita sadari ternyata lahan kosong disekeliling kita sekarang telah terisi oleh puluhan tenda, semuanya mendadak menjadi ramai dan lagi lagi Pasar Baru berpindah lokasi ke puncak Bayangan Manglayang (susah ya nyari tempat sepi, semuanya telah terisi, di hatimu ada tempat kosong gak?). Sempat juga kenalan dengan pendaki lain, ngobrol kesana kemari, share pengalaman, berbagi kopi, seru juga bisa dapat wawasan baru, dan entah kenapa semuanya mendadak menjadi cepat akrab disini . Ini lah asik nya di gunung, kita jadi seperti saudara di sini dan kembali jadi makhluk sosial yang gak bisa sendiri, mungkin karena kesamaan visi dan misi buat menikmati dan mensyukuri alam ini. Segelas kopi buat di minum bersama sama pun akhirnya menambah ke akrab an dan keceriaan suasana malam ini (beda dengan ngopi di cafe, udah mahal, garing lagi, loe-loe, guwe-guwe, kayak sticker yang sering ditempel dibelakang motor ”motor aing kumaha aing” (ini ngomong apa sih)). Oya, Menjelang tengah malam salah satu muridku pingsan karena asmanya kambuh dan aku harus merelakan tempat tidurku di tenda terpakai dan aku terkena gusur SATPOL PP jadi tidur di luar (dingin sumpeeehh)
Hari berganti pagi, semua orang menuju satu titik spot dimana matahari akan muncul di ufuk timur, masing masing membawa perlengkapan perang sendiri, ada kacamata hitam, kamera, kertas yang di tulis in “I love you”, sampai tongkat tongsis. Dan di saat itulah matahari mendadak menjadi model background paling laris yang dijepret oleh puluhan photographer pagi itu (bahkan saya jamin kalo ada Jupe pun pasti dicuek in, karena matahari yang ini lebih keren dari pada matahari nya Jupe (nah lho). Setelah puas ber selfi dan menghabiskan baterai kamera akhirnya kita packing tenda dan siap siap pulang, tidak lupa sampah sampah kita bersihkan,biar kita juga belajar untuk memahami “kalimat” nya nya para pecinta alam (Jangan ambil sesuatu kecuali gambar, Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak langkah dan Jangan membunuh sesuatu kecuali waktu).
Perjalanan turun ke start point awal kurang lebih memakan waktu 2,5 jam an, Alhamdulillah jan 10.30 kita sudah sampai di Baru beureum, tiba tiba murid ku yang baru sampai bilang “pak, si R pingsan di atas”, di antara kesal dan capek aku coba untuk membunuh ego ku, kutinggalkan tas di pos dan aku naik lagi hanya dengan membawa air minum. Di tengah perjalanan tersaji lah pemandangan, seorang anak perempuan tengah di gendong oleh pendaki lain (perasaan campur aduk waktu itu, antara capek, kesal sekaligus memuji fisik sang pendaki (kebayang aja ,menggendong orang yang beratnya dua kali lipat dari tas carier)). Setelah mengucapkan terimakasih sudah banyak membantu, aku coba untuk menetralisir dan mensugesti bahwa dia harus bisa sampai bawah seorang diri, aku hanya ingin dia mempunyai happy ending sendiri, dia bisa bangga dengan dirinya sendiri, dia bisa menaklukkan dirinya sendiri , meyakinkan bahwa dia bisa, dan dia gak boleh nyerah, bahwa kita semua memang lelah tapi kita tidak pernah boleh berhenti untuk melangkah, bahwa hidup memang perlu perjuangan untuk mendapatkan sesuatu, dan itu tidak mudah dan kita berpantang untuk mengibarkan bendera putih dan mengaku kalah. Akhirnya dia bisa turun sampai Baru Beureum melalui langkah langkah kakinya sendiri, sedikit demi sedikit walaupun tertatih, pelajaran buat kita semua Its Not The Mountain We Conquer, But Our Selves -Edmund Hillary (bukan gunung yang kita taklukan,tapi diri kita sendiri). Sekali lagi, terimakasih Manglayang telah memberikan pengalaman berharga untuk kami..
Tips Manglayang :
·
Perjalanan
dari ujung desa (belakang Kiara Payung) – Baru Beureum, 45 menit perjalanan
kaki. Jarang ada mobil yang mau mengantarkan sampai Baru Beureum, kalaupun
menaiki sepeda motor pun harus ekstra hati hati karena kondisi jalan yang
berbatu dan rusak.
·
Baru
Beureum (start point pendakian) –
Puncak Bayangan, 3,5 jam an (perjalanan santai).
·
Puncak
Bayangan – Puncak Utama Manglayang, 40 menit an (sayangnya di puncak utama
tidak ada view yang bisa kita lihat
karena tertutup oleh vegetasi pohon pohon rindang, plus ada makam di situ).
·
Jangan
memaksakan untuk mendirikan tenda di puncak Bayangan, karena area nya cukup
sempit (lebarnya sekitar 3 meter an), di kiri kanan terdapat jurang dan daerah
rawan longsor.
·
Bawalah
air mineral se maksimal mungkin, karena ketiadaan sumber mata air di
Manglayang.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar